Kota Pamocket di pasar mobil bekas

JAKARTA – Kendaraan dari kategori hatchbak atau yang biasa dikenal dengan City Car masih mendominasi pasar nasional untuk penjualan mobil bekas . Ini tidak jauh berbeda dengan minat publik untuk mobil kecil baru.

Faktor terpenting dari fenomena ini adalah kemampuan finansial orang yang ingin memiliki kendaraan pribadi. Dengan penurunan harga mobil bekas konsumen juga memiliki lebih banyak pilihan dalam hal jenis dan tahun pembuatan.

Selain alasan keuangan, tampaknya ada alasan lain untuk pembelian mobil bekas bagi penduduk DKI Jakarta. Artinya dapat digunakan sebagai kendaraan sekunder atau sekunder, untuk menghormati aturan jalan, seperti jalan ganjil dan reguler di ibukota.

Evolusi penjualan mobil bekas tipe City Car sendiri dikendalikan oleh pembelian yang dilakukan oleh dealer dari pemilik kendaraan bekas, melalui flat Bentuk korespondensi Carsome. "Angka ini dapat mencapai 40% dari total transaksi mobil bekas di fasilitas platform kami," kata Andreas Djingga, Direktur Nasional, Carsome Indonesia.

Kisaran harga yang terjangkau, kemudahan perawatan, dan konsumsi bahan bakar cenderung ekonomis, yang mendorong permintaan yang stabil untuk kendaraan bekas dalam kategori ini. "Adanya permintaan karena alasan fungsional dari sudut pandang konsumen, memaksa dealer untuk menyediakan pasokan yang konstan," kata Sigit Setyawan, Wakil Direktur Inspektur Carsome.

Konsumen dan pemilik kendaraan bekas masih memiliki kepercayaan pada beberapa merek mobil Jepang. Bahkan, kategori mobil ini memiliki penyusutan rata-rata atau penurunan harga 15-20%. Untuk kelas kota atau mobil hijau murah (LCGC), persentasenya bahkan bisa lebih rendah.

Keyakinan pada harga jual kembali dari merek mobil membuat jumlah transaksi bisnis pihaknya sendiri agak tinggi. Ini diamati oleh jumlah inspeksi yang dilakukan setiap hari oleh Carsome. "Untuk semua merek, hingga 200 unit harus diperiksa, tetapi dengan rata-rata hingga 80%," tambah Sigit.

Related posts

Leave a Comment