Kurangnya kemudahan bisnis menghambat investasi di pelabuhan

Indonesia lebih rendah dari Thailand dan Malaysia dalam hal kemudahan berbisnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kurangnya fasilitas untuk melakukan bisnis, yang, sebagai salah satu bisa diharapkan, masih dianggap sebagai kendala bagi investor yang terlibat dalam pengembangan pelabuhan. Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan bahwa kemudahan berbisnis masih menjadi masalah bagi investasi di Indonesia.

Meskipun, menurut Lana, kemudahan melakukan indeks bisnis (EoDB) Indonesia telah meningkat, tetapi tetap kalah dari Thailand dan Malaysia. Dua negara tetangga Indonesia ini sudah diklasifikasikan dalam kategori sangat mudah atau sangat mudah.

"Meskipun peringkat Indonesia telah meningkat, pada kenyataannya, pengusaha dan sektor swasta belum merasakan komitmen pemerintah untuk mencapai kemudahan melakukan bisnis dan investasi, tetapi pemerintah masih harus melakukan perbaikan, "kata Lana dalam sebuah pernyataan di Jakarta pada hari Minggu (11 Agustus).

Bahkan, lanjutnya, minat investor swasta lokal dan asing untuk berinvestasi di sektor terkait logistik terus tumbuh, sehingga pengembangan pelabuhan harus menjadi prioritas pemerintah. Keterlambatan pembangunan pelabuhan Marunda di Jakarta adalah contohnya.

PT Karya Citra Nusantara, salah satu perusahaan swasta lokal yang dimiliki oleh PT Karya Tekhnik Utama dan PT Kawasan Berikat Nusantara, telah menerima izin untuk membangun pelabuhan Marunda dari dermaga . atau pilar I, II dan III pada tahun 2005.

Namun, karena keterlambatan dalam proses perizinan, pembangunan pelabuhan yang ditargetkan selesai pada tahun 2012, tetapi akhirnya ditunda dan harus ditunda. Selesai pada tahun 2023. Saat ini, PT Karya Citra Nusantara terus membangun Dermaga I, yang telah beroperasi sejak 2012 dan telah menyelesaikan 70% pekerjaan konstruksi Jembatan II.

Pada saat yang sama, Direktur Eksekutif Indiaf Tauhid Ahmad menjelaskan bahwa Indonesia masih membutuhkan keberadaan pelabuhan khusus untuk bongkar muat barang. mampu melayani kapal lebih dari 3.500 TEU, kapasitas pelabuhan saat ini masih terbatas. Pada 2015-2018, 120 fasilitas pelabuhan dan 18 jalan penghubung laut dibangun.

"Minat investor dalam pembangunan pelabuhan sebenarnya masih tinggi, tetapi beberapa investor telah mundur perlahan karena tidak ada fasilitas dalam melakukan bisnis", kata Tauhid.

"Investasi pelabuhan bersifat berkelanjutan, jadi mereka juga membutuhkan komitmen jangka panjang untuk menciptakan iklim yang menguntungkan," tambahnya.

Sumber: Antara

Related posts

Leave a Comment